Di balik ribuan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia saat ini, ada sederet pesantren tua yang telah berdiri sejak ratusan tahun lalu dan masih terus mendidik santri hingga hari ini. Keberadaan pesantren-pesantren ini bukan sekadar bukti ketahanan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga saksi bagaimana pesantren ikut ambil bagian dalam perjalanan bangsa, mulai dari masa kerajaan Islam, era kolonial, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Daftar Pesantren Tertua di Indonesia
Catatan sejarah mengenai pesantren mana yang paling tua memang bervariasi antar sumber, tergantung metode penelusuran dan naskah rujukan yang digunakan. Namun beberapa nama berikut cukup konsisten disebut sebagai pesantren-pesantren tertua yang masih beroperasi hingga sekarang.
| Nama Pesantren | Lokasi | Tahun Berdiri | Pendiri |
|---|---|---|---|
| Al Kahfi Somalangu | Kebumen, Jawa Tengah | 1475 M | As-Syekh As-Sayyid Abdul Kahfi Al Hasani |
| Luhur Dondong | Semarang, Jawa Tengah | 1609 M | Kyai Syafi’i Pijoro Negoro |
| Nazhatut Thullab | Sampang, Madura | 1702 M | Kyai Abdul ‘Allam |
| Babakan Ciwaringin | Cirebon, Jawa Barat | 1705 M | Ki Jatira (Syekh Hasanuddin) |
| Tegalsari | Ponorogo, Jawa Timur | 1742 M | Kyai Ageng Muhammad Besari |
| Sidogiri | Pasuruan, Jawa Timur | 1745 M | Sayyid Sulaiman |
| Buntet | Cirebon, Jawa Barat | 1750 M | Mufti Keraton Cirebon |
| Jamsaren | Solo, Jawa Tengah | 1750 M | Kiai Jamsari & Kiai Hasan Gabudan |
| Miftahul Huda | Malang, Jawa Timur | 1768 M | KH Gunadi |
| Qomaruddin | Gresik, Jawa Timur | 1775 M | Kyai Qomaruddin |
Pesantren Al Kahfi Somalangu di Kebumen kerap disebut sebagai yang tertua, dengan tahun berdiri yang ditarik hingga era Kerajaan Majapahit, 4 Januari 1475 Masehi. Sementara itu, Pesantren Sidogiri di Pasuruan—yang bermula dari sebuah langgar peninggalan Sunan Giri—dikenal luas sebagai salah satu pesantren tertua yang hingga kini tetap konsisten mempertahankan sistem salaf, tanpa membuka jenjang pendidikan formal seperti madrasah pada umumnya.
Pesantren sebagai Pusat Perlawanan
Sepanjang masa penjajahan, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga menjelma menjadi basis perlawanan terhadap kolonialisme. Para kiai dan santri kerap menjadi motor penggerak perlawanan lokal di berbagai daerah, karena pesantren dipandang penjajah sebagai pusat penyebaran semangat anti-kolonial yang sulit dikendalikan.
Puncak dari peran ini terlihat jelas menjelang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng, mengeluarkan fatwa yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. Fatwa ini menegaskan bahwa membela tanah air dari upaya penjajahan kembali oleh Belanda dan sekutu adalah kewajiban agama (jihad) bagi setiap umat Islam.
Seruan ini menggerakkan ribuan santri dan ulama dari berbagai pesantren untuk turun langsung ke medan perjuangan. Semangat inilah yang kemudian menjadi salah satu pemantik penting Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, peristiwa yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi tersebut, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Peran Pesantren bagi Bangsa Pasca-Kemerdekaan
Setelah era kemerdekaan, peran pesantren tidak berhenti di ranah perjuangan fisik. Pesantren terus bertransformasi menjadi salah satu pilar penting pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Di bidang pendidikan, pesantren menjadi salah satu jaringan lembaga pendidikan keagamaan terbesar yang mencetak jutaan lulusan setiap tahunnya, banyak di antaranya kemudian berkiprah sebagai tokoh agama, pendidik, birokrat, hingga pengusaha. Di bidang ekonomi, sejumlah pesantren mengembangkan unit usaha mandiri yang menopang operasional pesantren sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar—Pesantren Sidogiri misalnya dikenal luas dengan jaringan koperasi dan usahanya yang besar.
Di ranah sosial-keagamaan, pesantren juga berperan menjaga wajah Islam yang moderat dan toleran di Indonesia, sejalan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin, sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput.
Penutup
Perjalanan panjang pesantren-pesantren tertua di Indonesia menunjukkan bahwa lembaga ini jauh lebih dari sekadar tempat mengaji. Dari langgar-langgar kecil pada abad ke-15 hingga menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan, pesantren telah membuktikan diri sebagai institusi yang mampu bertahan sekaligus terus relevan, menyumbangkan perannya bagi bangsa dari generasi ke generasi.
Penulis : Pondok88
